- Advertisement -
BerandaWacanaOpiniMelihat Cabor Muaythai dari Sudut Pandang Kepemimpinan

Melihat Cabor Muaythai dari Sudut Pandang Kepemimpinan

- Advertisement -

Oleh : Zen Lelangwayang (Direktur Lembaga Penggerak dan Pengembangan Olahraga/LAPPOR)

Olahraga dan kepemimpinan merupakan topik yang sangat menarik untuk dibicarakan demi membenahi keolahragaan di Indonesia. Kita punya banyak ahli olahraga di negeri ini yang sudah sering memberikan buah pikiran berupa sebuah karya ilmiah (hasil riset), kemudian tulisan atau opini dan lain-lain demi perbaikan olahraga di Indonesia. Namun, jarang sekali kita menemukan ahli atau pengamat yang menyoroti faktor kepemimpinan dalam memperbaiki keolahragaan negara ini.

Ketika kita membaca salah satu jurnal milik Joko Purnomo (2016), ia menyatakan bahwa terdapat beberapa aspek yang harus menjadi perhatian yaitu; kepemimpinan, menejemen dan budaya. Beberapa aspek yang disebutkan itu merupakan pilar penting dalam sebuah organisasi tidak terkecuali organisasi olahraga.

Dari konsep manajeman dan kepemimpinan terlihat jelas bahwa kepemimpinan menjadi hal yang penting dalam meraih sebuah kinerja atau prestasi, tentunya dengan budaya tatakelola organisasi yang transparan dan akuntabel. Saya pikir ada banyak sekali definisi kepemimpinan yang bisa kita temui di berbagai tulisan, hampir sebanyak jumlah orang yang ikut mendefinisikan itu. Salah satunya dari Northouse (2013), di mana ia mengatakan bahwa kepemimpinan itu proses mempengaruhi orang lain entah itu person ataupun kelompok.

Namun yang menjad permasalahan di setiap organisasi keolahragaan adalah soal egoisme orang yang diberikan amanah atau jabatan untuk menjalankan proses-proses kepemimpinan. Syafii Antonio (2015) mengemukakan, dalam organisasi keolahragaan tentunya untuk mencapai prestasi pada event tertentu maka kita butuh pemimpin yang punya kemampuan memimpin diri sendiri/ bisa mengendalikan diri sendiri atau hawa nafsu “self leadership“. Ketika para pemimpin cabang olahraga Indonesia sudah bisa menerapkan self leadership, maka akan susah kita menemukan ada konflik kepentingan di kubu oraganisasi olahraga yang ada di tingkat Pengurus Besar/Pusat. Sebab sejatinya karakter atau sikap itu menentukan baik buruknya amanah yang diemban oleh seseorang.

Dalam buku Champion Stories yang ditulis oleh Indonesian People Championship bersama Mark Plus Institute of Marketing menjelaskan, bahwa untuk menjadi pemimpin yang sukses harus memiliki tiga komponen: excellence, professionalism dan ethics. Soal excellence dan professionalism, orang-orang yang saat ini mengabdi di Pengurus Besar atau Pengurus Pusat organisasi olahraga tidak bisa diragukan karena rata-rata memiliki latar belakang profesi yang baik, namun hal yang masih menjadi problematika adalah soal ethics.

Pada dasarnya, ethics adalah prinsip-prinsip yang menjelaskan perilaku itu benar atau salah sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku. Ruang lingkup ethics itu sangat luas. Bila kita melihat 6 Pillars of Character dari Josephson Institute of Ethics, maka kita akan temukan beberapa hal di dalamnya seperti kejujuran dan integritas, respect (memperlakukan orang dengan hormat), responsibility, keadilan, caring, dan untuk keparipurnaannya ethics maka harus ada citizenship.

Tentunya tiga hal ini berkaitan sekali dengan self leadership sebab sebagai orang yang dipercayakan memimpin harus punya kemampuan mengelola hawa nafsu, karena hanya ada dua pilihan, “kita yang memimpin nafsu kita sendiri, atau nafsu itu yang akan memimpin keseluruhan diri kita?”

Apa yang terjadi saat ini dalam kepemimpinan di pusaran cabang olahraga di tingkat nasional sudah menjadi tontonan yang meresahkan penggiat, pecinta, ataupun pelaku dari cabang olahraga di maksud. Seperti beberapa yang masih dilanda permasalahan akibat konflik kepentingan diantaranya ada PB ISSI, Kempo, PTMSI, Esport dan beberapa cabang olahraga lainnya.

Pengurus Besar Muaythai Indonesia (PB MI) setelah PON XX 2021 Papua muncul berbagai isu bahkan dugaan-dugaan penyelewengan kekuasaan yang menurut sebagian kalangan bisa berujung pidana dan itu sangat gencar sekali dimainkan di media, tentunya ini menggambarkan intrik politik kekuasan di tubuh organisasi olahraga asal negeri gajah putih tersebut sedang panas-panasnya.

Muaythai saat ini hampir masuk 1 dekade keberadaannya di negeri ini. Dibentuk di Indonesia pada bulan Desember 2012 lalu, dan kini sudah mencapai usia 9 tahun 6 bulan. Bukan lagi usia muda untuk sebuah organisasi yang di dalamnya banyak kalangan profesional dengan latar belakang yang berbeda-beda.

Namun jika kita melihat usia yang masih cukup dini tentunya masih perlu banyak hal yang harus dibenahi, ditata dan dibangun terutama dari sisi pengelolaan organisasi, namun usia dini bukan menjadi alasan yang mendasar untuk kita memaklumkan setiap hal yang dianggap salah dari pemimpin organisasi, entah yang disengaja ataupun tidak.

Muaythai pada pucuk kepemimpinan di tingkat Pengurus Besar sudah dua kali dipimpin oleh Jenderal di Kepolisian, yaitu Komjen Pol (Purn) I Made Mangku Pastika dan Irjen Pol (Purn) Drs. Syafrudin, dan keduanya tidak dapat menyelesaikan amanah yang diemban karena mungkin tugas pada institusi yang memberatkan.

Namun yang menjadi catatan kita adalah dua Jenderal yang pernah memimpin ini didukung dengan komposisi kepengurusan yang kompeten, kapabel dan punya pengalaman di dunia olahraga bela diri lainnya seperti Karate, Wushu, Taekwondo dan lain sebagainya.

Sejak PON XX kemarin, PB MI menjadi sorotan dan mendapat catatan evaluasi kurang baik oleh Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat dan Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI) disebabkan beberapa persoalan yang dinilai buruk oleh kedua lembaga tersebut. Dan proses evaluasi kepemimpinan itu berjalan dan memberikan dampak kepada keikutsertaan Muaythai pada event nasional maupun internasional yang akan datang. Event internasional yang ikut terkena efek dari evaluasi kepemimpinan tersebut adalah Sea Games Vietnam yang baru saja berakhir pada bulan Mei kemarin. Muaythai tidak diikutkan selain karena alasan klasik soal rekam jejak prestasi atlit di ajang internasional, di satu sisi ada hal yang juga dianggap penting yakni rekomendasi KONI Pusat sebagai back up-an untuk diloloskan oleh tim review Sea Games.

Kunci persoalannya adalah dugaan tata kelola organisasi yang dinilai kurang memiliki prinsip transparansi dan akuntabilitas. Ini tidak hanya menjadi hal yang dipersoalkan oleh publik Muaythai, mulai dari tingkat camp (klub), kabupaten/jota, provinsi dan Pengurus Besar, namun hal yang sama juga dipersoalkan oleh KONI Pusat dan Kemenpora di mana kuncinya adalah soal menejemen kepemimpinan dan dugaan budaya dinasti kepemimpinan.

Dampak lain dari evaluasi KONI Pusat dan Kemenpora soal kepemimpinan adalah pertemuan yang diinisiasi oleh Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) dengan mengundang Kemenpora RI, KONI Pusat dan beberapa perwakilan Muaythai Provinsi pada hari kamis 14 April 2022.

Pertemuan yang diadakan di ruang rapat Ketua DPD RI, AA La Nyala Mahmud Mattalitti itu membahas kiprah dan prestasi olahraga Muaythai di Indonesia. Jadi, selain membahas problematika yang terjadi di internal PB MI atau istilah kerennya mengevaluasi kepemimpinan, ada hal penting yang dibicarakan adalah prestasi atlit di tingkat nasional maupun internasional.

Pada pertemuan itu, Ketua Umum KONI Pusat Letjen TNI (Purn) Marciano Norman, mengaku tak bermaksud menjegal cabor Muaythai pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI tahun 2024 di Aceh dan Sumatera Utara. Marciano tidak ingin cabor Muaythai bermasalah, makanya ia pernah meminta agar PB MI menyelesaikan masalah hukum baru bisa membuat Musyawarah Nasional (Munas).

Memang setelah PON XX Papua, beberapa atlit yang pernah menjadi bagian terpenting dari tim Indonesia di SEA Games Malaysia dan Filipina melaporkan Ketua Umum PB MI ke KONI Pusat, Kemenpora hingga ke Puspom AD. Ini terjadi setelah PB MI mau melaksanakan Rakernas untuk membicarakan Munas sesuai Surat Edaran KONI Pusat.

Dengan alasan hukum itulah KONI Pusat meminta penundaan Munas kemudian tidak mengakui Munas dan yang paling menggelisahkan cabor yang menjadi catatan untuk diikutkan pada PON 2024, kata Pak Marciano “sepanjang urusan internal organisasi ini dapat diselesaikan, maka cabor Muaythai diperkenankan untuk dipertandingkan kembali.”

Dalam pertemuan yang berharga bagi perwakilan Pengprov MI yang hadir pada saat itu, Ketua DPD RI La Nyalla Mattalitti selaku Dewan Pembina PB MI 2017-2022, mengaku tak pernah mendapat laporan mengenai kegiatan yang dilakukan jajaran pengurus. “saya tidak pernah mendapat laporan apapun mengenai perkembangan Muaythai,” tegasnya. Ia berharap pengurus PB Muaythai mau mengubah diri dan memperhatikan kesejahteraan serta nasib atlet !

Senator asal Jawa Timur itu mendukung penuh agar organisasi Muaythai ini dapat terus berkiprah mendapatkan prestasi, baik di kancah nasional maupun internasional. “saya terus mendukung agar olahraga Muaythai ini dapat terus meraih prestasi. Muaythai ini adalah olahraga yang saat ini telah menjadi kegemaran masyarakat. Saya berharap segala persoalan yang terjadi dapat diselesaikan dengan baik dan dalam tempo secepatnya”.

Dari berbagai persoalan yang menimpa organisasi cabor yang membina anak bangsa untuk mengangkat harkat dan martabat negara kita di dunia internasional, perlu kiranya memperhatikan 6 Pillars of Character dari Josephson Institute of Ethics, terutama menyangkut dengan ethics. Maka harapan besar, semoga ada kepemimpinan transformasional yang di mana merupakan proses keterlibatan orang lain dan menciptakan hubungan yang meningkatkan motivasi dan moralitas dalam diri pemimimpin dan pengikut.

Howel dan Avolio (1993) menyebutkan, bahwa kepemimpinan transformasional yang murni adalah kepemimpinan yang bersifat sosial dan peduli dengan kebaikan bersama. Maksud dari bersifat sosial adalah para pemimpin transformasional akan mengalahkan kepentingan mereka sendiri demi kebaikan orang lain. Kepemimpinan yang baik akan melahirkan tata kelola yang baik, seperti yang dicontohkan Rasullah Muhammad dengan prinsip kepemimpinan adalah menghargai orang lain baik lawan maupun kawan, sifat ramah, selalu menunjukkan kelembutan dan lain sebagainya dengan dilandasi siddiq (bersikap jujur), amanah (dapat dipercaya/trust), tabliq (mengomunikasikan pesan kebenaran), fathonah (intelek dan cerdas). Wallahualam bissawaf.

Editor : Rahmat Hidayat

- Advertisement -
- Advertisement -
Stay Connected
1,200FansSuka
1,000PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Pilihan Editor
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Berita Terkait
- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini